PROSES PERJALANAN PEMBELAJARAN
SEBAGAI GURU PENGGERAK SAMPAI SAAT INI
( Sebuah Rangkuman )
Oleh : WEGANG SRI
SULANJARI
CGP ANGKATAN 4 KOTA
SURAKARTA
Tidak
terasa proses belajar dalam mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak sudah
sampai pada Modul 3.1. Banyak pengetahuan dan ilmu yang sudah saya dapatkan,
semakin banyak materi yang saya dapatkan semakin menyadarkan saya bahwa masih
banyak lagi yang harus saya pelajari untuk menjadi seorang guru yang bisa
menuntun murid-murid saya menuju kebahagaiaan sejati. Berikut adalah proses
perjalanan saya sampai dengan saat ini yang saya susun dalam sebuah rangkuman
pembelajaran koneksi antar materi dari modul 1.1. hingga modul 3.1.
A. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi
Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan
keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
FIlosofi
Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara adalah
1. Ing
Ngarsa Sung Tuladha ( di depan memberi contoh ), memiliki
arti di depan menjadi teladan. Keteladanan adalah kunci keberhasilan dalam
kegiatan belajar, di mana ketika seorang pendidik memiliki sikap yang baik maka
siswa pun akan mengikuti sikap gurunya. Seorang guru harus bisa menjadi teladan
dan panutan bagi siswanya. Tidak hanya sekedar pandai berbicara dan memberi
contoh, tetapi bisa menjadi contoh
2. Ing
Madya Mangun Karsa ( di tengah membangun kemauan/ semangat ) artinya
dimanapun, dengan siapapun dan dalam kondisi apapun seorang guru harus menjadi
seseorang yang dapat menciptakan ide atau gagasan agar murid bersemangat. Guru
mempunyai peran penting untuk menciptakan ide dalam proses pembelajaran. Guru
dituntut untuk dapat memfasilitasi beragam metode serta strategi agar tujuan
pembelajaran berhasil dicapai. Selain itu, kemampuan atau potensi yang dimiliki
oleh siswa dapat berkembang dengan baik.
3. Tut
Wuri Handayani ( di belakang sebagai pendorong ), maksudnya
yaitu seorang pendidik harus mampu mendorong agar murid-muridnya termotivasi
untuk maju dan pantang menyerah dalam meraih cita-citanya . Dalam hal ini,
seseorang memiliki tanggung jawab dalam pekerjaannya untuk mendorong orang lain
dalam mencapai tujuan secara berkelanjutan. Keberhasilan seorang guru adalah
ketika dia bisa menjadikan muridnya menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak
orang.
Pratap
Troloka Ki Hajar Dewantara tersebut menjadikan guru sebagal role model
sekaligus pelaku dalam mewujudkan sekolah sebagai insitusi moral yang dirancang
untuk mengajarkan nilai-nilai moral. Segala keputusan yang dilakukan oleh guru pada
khususnya dan sekolah, akan merefleksikan nilai-nilai moral dan kebajikan yang
dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut dan selanjutnya akan menjadi contoh,
teladan dan rujukan bagi seluruh warga sekolah. Untuk itu peran guru sebagai
teladan, motivator dan fasilitator berpengaruh pada setiap pengambilan
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dengan mengedepankan nilai-nilai moral
yang bertujuan agar keputusan tersebut bermanfaat dalam mewujudkan kebahagiaan
sejati muid-muridnya.
- Bagaimana nilai-nilai yang
tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita
ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Guru penggerak
harus memiliki nilai Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak
pada Murid. Begitu pentingnya seorang guru dalam perjalanan
hidup seorang anak. Seorang Guru Penggerak tentunya berperan besar dalam
membuat lingkungan sekolah yang nyaman untuk para murid dan diharapkan mampu
berperan sebagai pemimpin yang berorientasi pada murid, dengan memperhatikan
segenap aspek pembelajaran yang mendukung tumbuh-kembang murid. Guru penggerak diharapkan
mampu membimbing dan memotivasi murid untuk menjadi mandiri yaitu memiliki
kemauan yang keras untuk belajar, beradaptasi dan mencari solusi bagi
permasalahan yang dihadapi serta bertanggung jawab terhadap apa yang telah
dilakukannya.
Pemimpin Pembelajaran berarti seorang
Guru Penggerak menjadi seorang pemimpin yang menitikberatkan pada komponen yang
terkait erat dengan pembelajaran, seperti kurikulum, proses belajar mengajar,
asesmen, pengembangan guru serta komunitas sekolah yang berpihak pada murid.
Seorang Guru Penggerak tentunya berperan besar dalam membuat lingkungan sekolah
yang nyaman untuk para murid dan diharapkan mampu berperan sebagai pemimpin
yang berorientasi pada murid, dengan memperhatikan segenap aspek pembelajaran
yang mendukung tumbuh-kembang murid.
Nilai diri seorang guru akan berpengaruh pada setiap
keputusan yang diambilnya, baik dalam pembelajaran maupun keputusan yang
menyangkut guru lain, atasan dan kebijakan. Beban dan amanah seorang guru
adalah memberikan yang terbaik bagi murid. Segala keputusan yang diambil harus
berdasarkan nilai-nilai diri yang berorientasi pada nilai kebajikan yang
berdampak pada peningkatan belajar murid. Di lingkungan kerja, guru penggerak
pun memiliki amanah untuk menjadi contoh Ini menjadi hal yang berat untuk
dilakukan, karena mau tidak mau Guru Penggerak akan jadi perhatian di
lingkungan kerja. Kolaborasi aktif dan partisipatif adalah kunci dari
keberhasilan guru penggerak dalam melakukan tugas dan perannya.
Dalam mengambil sebuah keputusan ada sembilan langkah
yang kita lakukan yaitu :
1.
Mengenali
nilai-nilai yang saling bertentangan
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
3.
Kumpulkan
fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
4.
Pengujian
Benar atau Salah, meliputi uji legal, uji legal, uji regulasi/ standar
profesional, uji intuisi, uji publikasi dan uji panutan/idola.
5.
Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.
a)
Individu
lawan masyarakat (individual vs community)
b)
Rasa
keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
c)
Kebenaran
lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
d)
Jangka
pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
6. Melakukan Prinsip Resolusi
a)
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based
Thinking)
b)
Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based
Thinking)
c)
Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based
Thinking)
7. Investigasi Opsi Trilema
8.
Buat
Keputusan
9.
Lihat
lagi Keputusan dan Refleksikan
Ketrampilan coaching akan sangat
membantu di dalam menerapkan sembilan langkah tersebut untuk menggali berbagai
informasi, data, nilai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan asertif disertai
komunikasi positif dengan berdasarkan alur TIRTA ( Tujuan, Identifikasi,
Rencana Aksi dan Tanggung Jawab ) untuk membuat kesimpulan-kesimpulan, membuat
prediksi hasil keputusan dan pada akhirnya membuat keputusan yang efektif.
Meskipun memang kadang sebuah keputusan tidak bisa memuaskan semua pihak, namun
dengan langkah yang tepat maka keputusan tersebut berdasarkan nilai kebajikan
universal, bertanggung jawab dan berpihak pada murid.
- Bagaimana kemampuan guru dalam
mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh
terhadap pengambilan keputusan?
Seorang guru harus memiliki kesadaran penuh dalam mengelola dirinya saat
mengambil keputusan. Ketrampilan sosial dan emosional akan sangat berpengaruh
pada setiap keputusan yang diambilnya, apakah cukup efekti atau tidak. Kesadaran penuh (mindfulness)
muncul saat seorang sadar sepenuhnya pada apa yang sedang dikerjakan dengan
pikiran terbuka, atau dalam situasi yang menghendaki perhatian yang penuh. Menurut Hawkins (2017), latihan berkesadaran penuh (mindfulness) dapat
membangun keterhubungan diri sendiri (self-awareness) dengan berbagai
kompetensi emosi dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, sebelum
memberikan respon dalam sebuah situasi sosial yang menantang, kita berhenti,
bernapas dengan sadar, mengamati pikiran, perasaan diri sendiri maupun orang
lain, mengelola emosi yang muncul, hingga dapat membuat pilihan/mengambil
keputusan yang lebih responsif, bukan reaktif.
Pada saat menghadapi sebuah situasi atau
kondisi menantang , mekanisme kerja otak akan mengarahkan diri untuk berhenti,
menarik napas panjang, memberikan waktu untuk memahami apa yang dirasakan diri
sendiri, apa nilai-nilai diri yang diyakini, memunculkan empati untuk
memahami situasi yang terjadi, mencari tahu apa yang dirasakan oleh orang yang
terlibat dengan hadir secara penuh. Guru akan melakukan coaching untuk
memahami apa yang terjadi. Respon guru yang berkesadaran penuh akan dapat
membangun koneksi dan rasa percaya murid atau rekan kerja pada guru. Koneksi,
rasa aman dan rasa percaya di antara guru dan murid akan memperkuat relasi
murid dan guru sehingga dapat menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang
kondusif bagi pembelajaran. Relasi yang terbangun antara guru dan murid akan
mendorong guru untuk membuat keputusan yang lebih responsif. Di sisi lain,
lingkungan belajar dan suasana belajar yang kondusif akan membantu tumbuhnya
kesadaran diri murid tentang perasaan, kekuatan, kelemahan, nilai-nilai yang
dimiliki dengan lebih baik. Tumbuhnya kesadaran sosial yang lebih baik yang
didasarkan pada perhatian yang bertujuan juga akan membantu murid dalam
memproses informasi secara lebih baik. Jika murid dapat mengikuti proses
pembelajaran secara lebih baik, maka secara perlahan tumbuh optimisme dan
tingkat efikasi dalam dirinya.
- Bagaimana pembahasan studi
kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai
yang dianut seorang pendidik.
Ketika guru
dihadapkan pada sebuah kasus baik itu bujukan moral maupun dilema etika, maka nilai
moral dan etika yang di anut oleh guru tersebut akan mempengaruhi bagaimana
respon, sikap dan hasil keputusan yang diambil. Seorang pendidik adalah contoh
atau teladan bagi murid-muridnya, maka ketika guru akan memberikan penguatan
karakter yang berkaitan dengan etika dan moral kepada murid-muridnya terlebih
dulu guru harus memiliki nilai etika dan moral dalam dirinya sendiri.
George
Wilhem Friedrich Hegel mengatakan bahwa Education is the art of making man
ethical, yang artinya pendidikan adalah sebuah seni untuk menciptakan manusia
menjadi beretika. Moral dan etika adalah landasan bagi guru dalam menjunjung
nilai-nilai kebajikan yang diajarkan kepada murid-murid. Butuh keberanian dan
kepercayaan diri yang tinggi ketika seorang pendidik diharuskan membuat sebuah
keputusan dengan berdasarkan nilai-nilai moral dan etika yang dianutnya. Besar
kemungkinan keputusan yang diambilnya akan bertentangan dengan orang lain, namun
selama itu bisa dipertanggungjawabkan dan berpihak pada murid maka pendidik
harus memiliki keberanian untuk bertindak.
- Bagaimana pengambilan keputusan
yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif,
kondusif, aman dan nyaman.
Dasar dalam mengambil keputusan
selain nilai kebajikan dan bertanggung jawab adalah berpihak pada murid.
Keputusan yang diambil harus berorientasi pada kebutuhan murid. Oleh karena
itu, dalam mengambil keputusan harus dipikirkan apakah akan berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif untuk mendukung proses belajar murid, aman, nyaman dan
kondusif sehingga murid memiliki kemerdekaan dan kebahagiaan dalam mengembangkan
dirinya. Keputusan tidak boleh membuat murid tertekan, terintimidasi dan
menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan ketakutan. Sebaliknya keputusan tersebut
harus mampu menuntun murid untuk memaksimalkan bakat dan potensinya dalam
mencapai kebahagiaan sejati.
- Selanjutnya, apakah
kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk
menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini?
Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Kesulitan - kesulitan yang saya alami di lingkungan kerja saya adalah :
a. Menyamakan
persepsi dengan semua rekan kerja
Beberapa guru yang sudah nyaman di zonanya, agak sulit
dalam menyamakan persepsinya terhadap sesuatu yang baru. Sesuatu yang berbeda
dari yang sudah ada dianggap hanya menambah pekerjaan dan beban pikiran saja.
Untuk menyikapi hal ini tentunya butuh sebuah kegiatan untuk menyamakan persepsi,
bisa dilakukan dengan cara kolaborasi dan pengimbasan dengan komunikasi positif
dalam suasana kerja yang nyaman.
b. Tarik
menarik dengan berbagai kepentingan
Seperti yang disampaikan oleh pak Nadiem bahwa dalam
membuat keputusan pasti tidak bisa memenuhi semua kepentingan dan memuaskan
semua pihak. Terlebih lagi jika keputusan yang kita ambil adalah sebuah langkah
transormasi, pasti akan ada kritik bahkan pertentangan didalamnya. Kritik dan
pertentangan akan datang dari pihak yang merasa kepentingannya terganggu. Mau
tidak mau harus siap dengan segala konsekuensinya.
c. Konsistensi
dalam menjalankan komitmen
Kendala ini berasal dari diri saya pribadi. Saat masih
mengikuti pendidikan guru penggerak ini, insyaallah saya konsisten dalam
menjalankan komitmen. Namun tidak bisa dipungkiri, seorang manusia kadang ada
di titik jenuh, lelah dan putus asa. Sebenarnya ini lebih pada kekhawatiran,
akahkah seterusnya saya bisa selalu konsisten dalam menjalankan tugas dan peran
saya apabila nanti ada pada situasi dan kondisi yang sulit dan berat.
- Dan pada akhirnya, apakah
pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang
memerdekakan murid-murid kita?
Setiap
keputusan yang kita ambil tentunya akan sangat berpengaruh pada tujuan dari
awal pendidikan ini yaitu bagaimana menciptakan pembelajaran yang berpihak pada
murid. Menciptakan suasan kelas yang aman, nyaman dan menyenangkan sehingga
murid-murid dapat memerdekakan dirinya dalam proses belajar. Keputusan , kita
berdampak pada bagaimana murid dapat memaksimalkan potensinya dengan sepenuh
hati dan mendapat respon, umpan balik positif dari lingkungannya. Keputusan
tidak hanya pada menyelesaikan masalah tetapi juga tentang bagaimana
menciptakan pembelajaran dikelas yang efektif, kreatif, inovatif dan penuh
dengan kebermanfaatan.
- Bagaimana seorang pemimpin
pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau
masa depan murid-muridnya?
Apa yang akan didapatkan dimasa
depan dipengaruhi dengan apa yang dilakukan pada hari ini. Keputusan yang kita
ambil hari ini akan berpengaruh dengan apa yang akan terjadi di masa depan.
Keputusan yang tepat dan efektif akan berpengaruh pada masa depan murid-murid
kita. Apabila hari ini murid-murid kita bisa menemukan kemerdekaan dan
kebahagiaan dalam belajar sehingga mereka menemukan dan memaksimalkan
potensinya maka, hal ini akan memberikan kemudahan dan jalan bagi murid untuk
mencapai kesuksesan di masa yang akan datang.
- Apakah kesimpulan akhir yang
dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya
dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan
akhir dari pembelajaran di modul ini adalah adanya keterkaitan dari semua modul
baik itu filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, nilai guru pengerak, peran
guru penggerak, budaya positif, pembelajaran berdiferensiasi, visi misi sekolah
yang berpihak pada murid, pembelajaran sosial emosional, coaching pada
pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
1. Guru berperan
penting dalam menjadikan sekolah sebagai institusi moral yang menjunjung tinggi
nilai-nilai kebajikan dalam mendidik murid-muridnya
2. Diperlukan
konsistensi dan komitmen dari seluruh warga sekolah, orang tua dan stakeholder dalam
melaksanakan visi misi sekolah yang berpihak pada murid.
3. Setiap
keputusan yang diambil harus didasarkan pada nilai kebajikan, bertanggungjawab
dan berpihak pada murid.
4. Saat
mengambil keputusan kita harus memikirkan apakah keputusan tersebut akan
berdampak pada peningkatan belajar murid.
5. Butuh
keberanian dalam mengambil keputusan karena pasti akan ada kritik dan
pertentangan dari beberapa pihak
6. Saat membuat
keputusan harus dilakukan dengan kesadaran penuh dengan melibatkan aspek sosial
dan emosional yang baik
7. Ketrampilan
coaching akan sangat membantu dalam menjalankan sembilan langkah pengambilan
keputusan
8. Efektif atau
tidaknya keputusan yang kita ambil akan sangat berpengaruh bagi kesuksesan
murid di masa depan
.jpeg)