Rabu, 25 Mei 2022

PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

 

PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

Oleh : Wegang Sri Sulanjari

 



Latar Belakang

Setiap sekolah memiliki visi dan misi yang ditetapkan sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pencapaian visi dan misi sekolah tentu saja harus dilakukan oleh seluruh aspek yang ada di sekolah. Kepala sekolah sebagai pimpinan dituntut memiliki kemampuan managerial untuk menggerakkan dan mewujudkan sekolah sebagai sebuah ekosistem yang baik dan kuat. Guru adalah pemimpin pembelajaran di kelas, berhadapan langsung dengan murid dan orang tua merupakan unsur penting, begitu juga dengan tempat, sarana prasarana, dan unsur lain yang dapat mendukung dalam pelaksanaan kegiatan dan program sekolah.

Saat menetapkan program atau melaksanakan kegiatan baik di kelas maupun lingkup sekolah kerap menghadapi hambatan dan kendala. Berjalan tidaknya kegiatan tersebut tergantung dari keputusan seluruh warga sekolah dalam mengambil keputusan serta bagaimana pemimpin pembelajaran mampu mengelola sumber daya sekolah menjadi kekuatan dalam mencapai tujuan pembelajaran dan visi, misi sekolah

Permasalahan

Bagaimanakah seorang pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya untuk mencapai tujuan, visi dan misi sekolah ?

Pemecahan masalah

Seorang pemimpin pembelajaran harus memiliki mindset atau pola pikir positif dalam menjalankan kegiatan di sekolah baik itu pembelajaran di kelas, pembiasaan, event, kegiatan ko kurikuler maupun intrakurikuler serta kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru seperti seminar, workshop, dan sebagainya.

Hal ini dapat dilakukan dengan Pendekatan Berbasis Aset atau Asset Based Thingking. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset  menekankan kepada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset  berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas.  Selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi. 



Pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.  

Saat pemimpin pembelajaran melakukan pemetaan teradap sumber daya yang dimiliki dan selanjutnya memanfaatkannya secara maksimal dalam melaksanakan pembelajaran di kelas, maka hal tersebut akan mendorong sebuah tindakan yang berdampak pada peningkatan kualitas proses dan ketercapaian hasil pembelajaran. Mengingat bahwa dengan melakukan pendekatan berbasis aset, kita akan lebih berorientasi pada aset dan kekuatan, membayangkan masa depan, berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut, mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya, merancang sebuah rencana berdasarkan misi dan kekuatan serta melaksanakan aksi yang sudah direncanakan.

 

Hubungan materi ini dengan materi lain yang didapatkan sebelumnya selama mengikuti proses Pelatihan Guru Penggerak.

Modul 3.2. ini mengajarkan untuk merubah mindset atau paradigma berpikir positif dalam mengembangkan sumber daya di sekolah dan memanfaatkannya secara maksimal. Hal ini sangat erat kaitannya dengan modul sebelumnya yaitu :

1.    Modul 1.1. tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara untuk menuntun anak sesuai dengan kodratnya dimana kita harus fokus pada kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh murid sehingga murid akan dapat menemukan kebahagiaan sejatinya.

2.    Modul 1.2. tentang nilai dan peran guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran yang harus memiliki kemampuan dalam mengelola sumber daya untuk mencapai kesuksesan proses pembelajaran.

3.    Modul 1.3. tentang taapan BAGJA dalam melakukan sebuah prakarsa perubahan

4.    Modul 1.4 tentang budaya positif di sekolah dengan merubah mindset menjadi positif

5.    Modul 2.1, 2.2, 2.3. tentang pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial emosional dan coaching dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki anak untuk menyelesaikan masalahnya

6.    Modul 3.1. tentang pengambilan keputusan yang bertanggung jawab sebagai seorang pemimpin pembelajaran.

Materi ini memberi penguatan sekaligus aplikasi dalam mengimplementasikan materi diatas.

 

Hubungan antara sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan terkait modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri saya setelah mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.

Sebelum mempelajari modul ini saya masi menggunakan analisis SWOT dimana paradigma saya masih berpikir bagaimana mengadapi kendala bukan pada bagaimana memaksimalkan potensi, seingga ada beberapa rencana yang akhirnya berjalan tidak maksimal atau tidak berjalan sama sekali. Setelah mempelajari materi ini saya sudah mampu memetakan aset dan mencatat aspek mana saja yang bisa saya maksimalkan untuk menjalankan rencana saya. BAGJA sangat membantu di dalam menyusun dan melaksanakan sebuah program atau kegiatan di sekolah, baik pembelajaran di kelas maupun kegiatan di lingkup sekolah.



Kesimpulan

Paradigma berpikir positif dengan fokus pada potensi yang dimiliki akan menggerakan seluruh kemampuan kita untuk bertindak positif. Pemetaan aset dan membuat sebuah prakarsa perubahan dengan tahapan BAGJA akan sangat membantu guru sebagai pemimpin pembelajaran mencapai tujuan pembelajaran dengan maksimal.

 

 

 

 

Rabu, 11 Mei 2022

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN PADA KASUS KONFLIK PENGURUS ORGANISASISISWA INTRA SEKOLAH ( OSIS ) ( Menggunakan Kerangka 4F/4P )

 

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

PADA KASUS KONFLIK PENGURUS

ORGANISASISISWA INTRA SEKOLAH ( OSIS )

( Menggunakan Kerangka 4F/4P )


Oleh : Wegang Sri Sulanjari

 

 

PERISTIWA /FAKTA

 

A.   Latar Belakang

Guru penggerak diharapkan mampu membimbing dan memotivasi murid untuk menjadi mandiri yaitu memiliki kemauan yang keras untuk belajar, beradaptasi dan mencari solusi bagi permasalahan yang dihadapi serta bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukannya.

Dalam aksi nyata kali ini, saya akan mengambil keputusan pada kasus yang terjadi dalam organisasi OSIS. Murid bernama Kuntara yang menjabat sebagai ketua II dalam kepengurusan OSIS SMP Negeri 4 Surakarta tiba-tiba menelpon saya dan mengatakan ingin mengundurkan diri sebagai pengurus OSIS. Alasannya adalah sudah tidak sejalan dengan pengurus yang lain dan suasana organisasi sudah tidak nyaman lagi bagi dirinya. Salah satu anggota yang berseberangan dengan dirinya adalah Anindya yang menjabat sebagai bendahara. Dari awal pemilihan Nindya memang menunjukkan rasa tidak suka kepada Kuntara dan ketidak sukaannya sudah masuk pada perilaku hate speech ( ujaran kebencian ) dan bullying ( perundungan ) kepada Kuntara melalui media sosial. Konflik ini diperparah dengan adanya dua kubu yang berada dipihak Anindya dan di pihak Kuntara. Sementara Ketua Umum OSIS yaitu Ameera, tidak bisa menyelesaikan masalah ini namun sebaliknya justru ikut dalam kubu Nindya. Hal ini dikarenakan saat kampanye, Nindya adalah salah satu tim suksesi Ameera. Melihat kasus ini, Nindya seharusnya dikeluarkan dari kepengurusan OSIS sesuai dengan tata tertib pengurus OSIS, namun saya dan Bu Giyarti selaku kesiswaan masih mempertimbangkan apakah ada keputusan lain yang terbaik bagi mereka.

 

Penyelesaian kasus ini akan saya lakukan dengan menerapkan sembilan langkah seperti yang telah saya pelajari pada modul 3.1.

 

B.   Alasan Melakukan Aksi

Alasan saya dalam melakukan aksi ini adalah :

·         Tanggung jawab saya mendapatkan tugas tambahan sebagai Wakil Kepala Kurikulum sekaligus membantu operasional Kesiswaan

·         Bu Giyarti selaku Wakil Kepala Bidang Kesiswaan meminta saya untuk membantu menyelesaikan masalah ini mengingat pengalaman saya sebelumnya menjadi Waka Kesiswaan

·         Kuntara menghubungi saya untuk mengajukan pengunduran dirinya yang memiliki masalah dengan Nindya lewat WA, dan masalah ini sudah terdengar kepada orang tua Kuntara yang secara langsung menemui saya di sekolah.

·         Saya merasa masalah ini harus segera diselesaikan agar konflik tidak semakin panjang dan kinerja organisasi dapat berjalan dengan baik. Penyelesaian ini sekaligus untuk memberikan pembelajaran tentang dinamika sebuah organisasi kepada pengurus lain, sehingga mereka dapat belajar untuk bersikap, mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap keputusan mereka. Hal ini adalah penguatan karakter mereka sebagai pemimpin bagi temannya.

 

C.  Hasil Aksi Nyata

Saya menyelesaikan kasus ini dengan menerapkan sembilan langkah pengambilan keputusan sebagai berikut :

1.   Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

Dalam kasus ini terdapat dilema etika dengan nilai-nilai moral yang bertentangan yaitu menghormati dan menghargai orang lain, tanggung jawab, toleransi dan menerima perbedaan, mandiri, kolaboratif dan berpikir kritis.

2.   Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

a.    Pihak yang mengalami dilema dalam kasus ini adalah saya.

b.    Pihak yang terlibat dalam kasus ini adalah Kuntara, Nindya dan  Ameera.

c.    Dalam menyelesaikan masalah ini saya berkolaborasi dengan melibatkan guru BK dan Kesiswaan

3.   Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

Untuk mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini saya melakukan coaching dengan Kuntara, Anindya dan Ameera.

a)    Informasi dari Kuntara

Kuntara meminta berkonsultasi dengan saya melalui chat WA, karena dia merasa lebih nyaman dan belum bisa pergi ke sekolah. Dari informasi tersebut diperoleh fakta bahwa

·         Anindya tidak suka dengan Kuntara, hal ini ditunjukkan dengan screenshoot bahwa Nindya tidak terima jika Kuntara menjadi Ketua OSIS

·         Salah satu penyebab ketidak sukaan Anindya kepada Kuntara adalah ada murid laki-laki yang bernama Pasha yang dekat dengan Kuntara, padahal Anindya sangat menyukai murid tersebut

·         Nindya sudah menuliskan ujaran kebencian melalui status WA dan sindiran di medsos, bahkan ada bukti menunjukkan tentang keinginan Nindya atas “kematian” Kuntara. Ini sudah masuk pada pelanggaran tata tertib sekolah dan kesepakatan organisasi.

·         Kuntara sangat tidak nyaman dan ingin keluar dari organisasi, hal ini sudah disampaikan ke ibunya. Dan ibunya sudah menghubungi saya untuk mengkonfirmasi hal tersebut.

·         Hasil coaching, Kuntara ingin menyelesaikan konflik dengan Nindya dan kembali menjadi pengurus

 




b)   Informasi dari Anindya

·         Pada saat awal pemilihan Ketua OSIS memang dia mengaku tidak suka dengan Kuntara karena Kuntara ditugaskan oleh Ketua lama untuk mengevaluasi kinerja pengurus OSIS sebelumnya yang masih mengajukan diri di tahun berikutnya. Dalam catatan Kuntara kinerja Nindya kurang bagus, ini yang menjadi penyebabnya.

·         Mengakui bersalah karena dia pernah melakukan bullying dengan menuliskan ujaran kebencian di Medsos dan ingin meminta maaf kepada Kuntara

·         Banyak kesalahpamahaman yang ingin dia klarifikasikan kepada Kuntara

·         Meminta untuk tetap menjadi pengurus OSIS dan bersedia dievaluasi apabila melakukan hal-hal yang mengganggu kinerja OISI

 



c)    Informasi dari Ameera

·         Sebagai Ketua Umum OSIS Ameera tidak membela satu pihak, dia mencari inormasi tentang apa yang terjadi dari pengurus yang lain dan berusaha mendamaikan keduanya

·         Meminta saya untuk tidak mengeluarkan Nindya dari pengurus OSIS dan tidak mengijinkan Kuntara mengundurkan diri karena keduanya memiliki potensi dan sangat dibutuhkan dalam kerja OSIS. Kuntara saat ini menjabat menjadi Ketua 1 dan Nindya menjadi Bendahara 1

 



4.   Pengujian Benar atau Salah, meliputi uji legal, uji legal, uji regulasi/ standar profesional, uji intuisi, uji publikasi dan uji panutan/idola.

Kasus ini masuk pada dilema etika karena tidak ada pelanggaran dalam uji lega dan uji regulasi. Tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang saya anut, saya nyaman saja jika dipublikasikan dan panutan saya kemungkinan besar akan melakukan hal yang sama.

 

5.   Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

Dalam kasus ini, paradigma yang terjadi adalah

a)         Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

b)        Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

6.   Melakukan Prinsip Resolusi

Prinsip yang saya ambil adalah Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

 

7.   Investigasi Opsi Trilema

Alternatif keputusan lain adalah Nindya tetap menjadi pengurus OSIS namun tidak di posisi strategis yaitu Bendahara. Bisa dialihkan ke posisi lain misalnya anggota atau seksi bidang

8.   Buat Keputusan

Saya memutuskan untuk :

·         Kuntara tetap menjadi pengurus OSIS, tidak diijinkan keluar dari kepengurusan

·         Nindya tetap menjadi Bendahara 1 karena sudah mengakui kesalahan dan berdamai dengan Kuntara, namun tetap dalam evaluasi selama tiga bulan ke depan. Apabila perubahan sikap terlihat dalam tiga bulan maka tetap akan menjadi pengurus OSIS sampai akhir masa jabatan.







9.   Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Keputusan yang saya ambil saya lihat lagi dan berjalan dengan pengamatan selama tiga bulan ke depan

 

PERASAAN/ FEELINGS

Perasaan saya ketika akan menjalankan aksi tersebut masih bingung untuk menentukan apakah tahap mencari informasi dengan coaching akan saya lakukan secara individu atau langsung bertiga dengan pihak yang terlibat. Akhirnya saya putuskan untuk menggali inormasi sekaligus coaching secara individu kemudian menyelesaikan masalah dengan melakukan coaching bersama dengan anak-anak dan Bu Giyarti. Setelah melakukan sembilan langkah pengmabilan keputusan, saya merasa lebih mudah dalam mengambil keputusan dalam masalah ini. Dan yang terpenting adalah anak-anak tersebut bisa membuat keputusan sendiri dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki tanpa tekanan maupun ancaman. Menyenangkan sekali ketika saat ini saya melihat mereka berempat sangat dekat satu sama lain dan menjadi tim yang solid dalam pelaksanaan kegiatan Bazzar Ramadhan kemarin.

 

PEMBELAJARAN/ FINDINGS

 

Pembelajaran yang dapat saya ambil dari keberhasilan Aksi Nyata kali ini adalah ;

1.    Coaching sangat diperlukan dan membantu dalam menyelesaikan masalah, karena setiap pihak yang terlibat akan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri dengan memaksimalkan potensi yang dimilikinya

2.    Keputusan yang tepat akan berpengaruh positif pada murid , baik secara sikap, karakter atau mindset. Pengalaman ini juga menjadi sebuah pelajaran berharga bagi murid di masa depan.

3.    Kolaborasi dengan guru lain sangat membantu dalam mengambil keputusan.

4.    Sembilan langkah pengambil keputusan terbukti efekti dalam membuat keputusan, asalkan dilakukan dengan konsisten sesuai dengan alur yang ada

 

PENERAPAN KEDEPAN/ FUTURE

Beberapa hal yang akan saya perbaiki di masa yang akan datang dalam mengambil keputusan adalah :

1.    Menyediakan lebih banyak waktu apabila coachee menginginkan untuk lebih banyak berdiskusi

2.    Mempersiapkan kesimpulan data dalam bentuk catatan dari hasil coaching individu sebelum melakukan coaching secara kelompok.

Minggu, 24 April 2022

PROSES PERJALANAN PEMBELAJARAN SEBAGAI GURU PENGGERAK SAMPAI SAAT INI ( Sebuah Rangkuman ) - Tugas Koneksi Antar Materi Modul 3.1.

 

PROSES PERJALANAN PEMBELAJARAN

SEBAGAI GURU PENGGERAK SAMPAI SAAT INI

( Sebuah Rangkuman )

 

Oleh : WEGANG SRI SULANJARI

CGP ANGKATAN 4 KOTA SURAKARTA

 

Tidak terasa proses belajar dalam mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak sudah sampai pada Modul 3.1. Banyak pengetahuan dan ilmu yang sudah saya dapatkan, semakin banyak materi yang saya dapatkan semakin menyadarkan saya bahwa masih banyak lagi yang harus saya pelajari untuk menjadi seorang guru yang bisa menuntun murid-murid saya menuju kebahagaiaan sejati. Berikut adalah proses perjalanan saya sampai dengan saat ini yang saya susun dalam sebuah rangkuman pembelajaran koneksi antar materi dari modul 1.1. hingga modul 3.1.



A.  Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

 

FIlosofi Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara adalah

1.    Ing Ngarsa Sung Tuladha ( di depan memberi contoh ), memiliki arti di depan menjadi teladan. Keteladanan adalah kunci keberhasilan dalam kegiatan belajar, di mana ketika seorang pendidik memiliki sikap yang baik maka siswa pun akan mengikuti sikap gurunya. Seorang guru harus bisa menjadi teladan dan panutan bagi siswanya. Tidak hanya sekedar pandai berbicara dan memberi contoh, tetapi bisa menjadi contoh

2.    Ing Madya Mangun Karsa ( di tengah membangun kemauan/ semangat ) artinya dimanapun, dengan siapapun dan dalam kondisi apapun seorang guru harus menjadi seseorang yang dapat menciptakan ide atau gagasan agar murid bersemangat. Guru mempunyai peran penting untuk menciptakan ide dalam proses pembelajaran. Guru dituntut untuk dapat memfasilitasi beragam metode serta strategi agar tujuan pembelajaran berhasil dicapai. Selain itu, kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh siswa dapat berkembang dengan baik.

3.    Tut Wuri Handayani ( di belakang sebagai pendorong ), maksudnya yaitu seorang pendidik harus mampu mendorong agar murid-muridnya termotivasi untuk maju dan pantang menyerah dalam meraih cita-citanya . Dalam hal ini, seseorang memiliki tanggung jawab dalam pekerjaannya untuk mendorong orang lain dalam mencapai tujuan secara berkelanjutan. Keberhasilan seorang guru adalah ketika dia bisa menjadikan muridnya menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang.

Pratap Troloka Ki Hajar Dewantara tersebut menjadikan guru sebagal role model sekaligus pelaku dalam mewujudkan sekolah sebagai insitusi moral yang dirancang untuk mengajarkan nilai-nilai moral. Segala keputusan yang dilakukan oleh guru pada khususnya dan sekolah, akan merefleksikan nilai-nilai moral dan kebajikan yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut dan selanjutnya akan menjadi contoh, teladan dan rujukan bagi seluruh warga sekolah. Untuk itu peran guru sebagai teladan, motivator dan fasilitator berpengaruh pada setiap pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dengan mengedepankan nilai-nilai moral yang bertujuan agar keputusan tersebut bermanfaat dalam mewujudkan kebahagiaan sejati muid-muridnya.

  1. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Guru penggerak harus memiliki nilai Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid. Begitu pentingnya seorang guru dalam perjalanan hidup seorang anak. Seorang Guru Penggerak tentunya berperan besar dalam membuat lingkungan sekolah yang nyaman untuk para murid dan diharapkan mampu berperan sebagai pemimpin yang berorientasi pada murid, dengan memperhatikan segenap aspek pembelajaran yang mendukung tumbuh-kembang murid. Guru penggerak diharapkan mampu membimbing dan memotivasi murid untuk menjadi mandiri yaitu memiliki kemauan yang keras untuk belajar, beradaptasi dan mencari solusi bagi permasalahan yang dihadapi serta bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukannya.

Pemimpin Pembelajaran berarti seorang Guru Penggerak menjadi seorang pemimpin yang menitikberatkan pada komponen yang terkait erat dengan pembelajaran, seperti kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen, pengembangan guru serta komunitas sekolah yang berpihak pada murid. Seorang Guru Penggerak tentunya berperan besar dalam membuat lingkungan sekolah yang nyaman untuk para murid dan diharapkan mampu berperan sebagai pemimpin yang berorientasi pada murid, dengan memperhatikan segenap aspek pembelajaran yang mendukung tumbuh-kembang murid.

Nilai diri seorang guru akan berpengaruh pada setiap keputusan yang diambilnya, baik dalam pembelajaran maupun keputusan yang menyangkut guru lain, atasan dan kebijakan. Beban dan amanah seorang guru adalah memberikan yang terbaik bagi murid. Segala keputusan yang diambil harus berdasarkan nilai-nilai diri yang berorientasi pada nilai kebajikan yang berdampak pada peningkatan belajar murid. Di lingkungan kerja, guru penggerak pun memiliki amanah untuk menjadi contoh Ini menjadi hal yang berat untuk dilakukan, karena mau tidak mau Guru Penggerak akan jadi perhatian di lingkungan kerja. Kolaborasi aktif dan partisipatif adalah kunci dari keberhasilan guru penggerak dalam melakukan tugas dan perannya.


  Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil.

Dalam mengambil sebuah keputusan ada sembilan langkah yang kita lakukan yaitu :

1.    Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2.    Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3.    Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

4.    Pengujian Benar atau Salah, meliputi uji legal, uji legal, uji regulasi/ standar profesional, uji intuisi, uji publikasi dan uji panutan/idola.

5.    Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

a)         Individu lawan masyarakat (individual vs community)

b)        Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

c)         Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

d)        Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

6.    Melakukan Prinsip Resolusi

a)         Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

b)        Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

c)         Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

7.    Investigasi Opsi Trilema

8.    Buat Keputusan

9.    Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Ketrampilan coaching akan sangat membantu di dalam menerapkan sembilan langkah tersebut untuk menggali berbagai informasi, data, nilai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan asertif disertai komunikasi positif dengan berdasarkan alur TIRTA ( Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi dan Tanggung Jawab ) untuk membuat kesimpulan-kesimpulan, membuat prediksi hasil keputusan dan pada akhirnya membuat keputusan yang efektif. Meskipun memang kadang sebuah keputusan tidak bisa memuaskan semua pihak, namun dengan langkah yang tepat maka keputusan tersebut berdasarkan nilai kebajikan universal, bertanggung jawab dan berpihak pada murid.

  1. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Seorang guru harus memiliki kesadaran penuh dalam mengelola dirinya saat mengambil keputusan. Ketrampilan sosial dan emosional akan sangat berpengaruh pada setiap keputusan yang diambilnya, apakah cukup efekti atau tidak. Kesadaran penuh (mindfulness) muncul saat seorang sadar sepenuhnya pada apa yang sedang dikerjakan dengan pikiran terbuka, atau dalam situasi yang menghendaki perhatian yang penuh. Menurut Hawkins (2017), latihan berkesadaran penuh (mindfulness) dapat membangun keterhubungan diri sendiri (self-awareness) dengan berbagai kompetensi emosi dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, sebelum memberikan respon dalam sebuah situasi sosial yang menantang, kita berhenti, bernapas dengan sadar, mengamati pikiran, perasaan diri sendiri maupun orang lain, mengelola emosi yang muncul, hingga dapat membuat pilihan/mengambil keputusan yang lebih responsif, bukan reaktif. 

Pada saat menghadapi sebuah situasi atau kondisi menantang , mekanisme kerja otak akan mengarahkan diri untuk berhenti, menarik napas panjang, memberikan waktu untuk memahami apa yang dirasakan diri sendiri, apa nilai-nilai diri yang diyakini,  memunculkan empati untuk memahami situasi yang terjadi, mencari tahu apa yang dirasakan oleh orang yang terlibat dengan hadir secara penuh.  Guru akan melakukan coaching untuk memahami apa yang terjadi. Respon guru yang berkesadaran penuh akan dapat membangun koneksi dan rasa percaya murid atau rekan kerja pada guru. Koneksi, rasa aman dan rasa percaya di antara guru dan murid akan memperkuat relasi murid dan guru sehingga dapat menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang kondusif bagi pembelajaran. Relasi yang terbangun antara guru dan murid akan mendorong guru untuk membuat keputusan yang lebih responsif. Di sisi lain, lingkungan belajar dan suasana belajar yang kondusif akan membantu tumbuhnya kesadaran diri murid tentang perasaan, kekuatan, kelemahan, nilai-nilai yang dimiliki dengan lebih baik. Tumbuhnya kesadaran sosial yang lebih baik yang didasarkan pada perhatian yang bertujuan juga akan membantu murid dalam memproses informasi secara lebih baik.  Jika murid dapat mengikuti proses pembelajaran secara lebih baik, maka secara perlahan tumbuh optimisme dan tingkat efikasi dalam dirinya. 

  1. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Ketika guru dihadapkan pada sebuah kasus baik itu bujukan moral maupun dilema etika, maka nilai moral dan etika yang di anut oleh guru tersebut akan mempengaruhi bagaimana respon, sikap dan hasil keputusan yang diambil. Seorang pendidik adalah contoh atau teladan bagi murid-muridnya, maka ketika guru akan memberikan penguatan karakter yang berkaitan dengan etika dan moral kepada murid-muridnya terlebih dulu guru harus memiliki nilai etika dan moral dalam dirinya sendiri.

George Wilhem Friedrich Hegel mengatakan bahwa Education is the art of making man ethical, yang artinya pendidikan adalah sebuah seni untuk menciptakan manusia menjadi beretika. Moral dan etika adalah landasan bagi guru dalam menjunjung nilai-nilai kebajikan yang diajarkan kepada murid-murid. Butuh keberanian dan kepercayaan diri yang tinggi ketika seorang pendidik diharuskan membuat sebuah keputusan dengan berdasarkan nilai-nilai moral dan etika yang dianutnya. Besar kemungkinan keputusan yang diambilnya akan bertentangan dengan orang lain, namun selama itu bisa dipertanggungjawabkan dan berpihak pada murid maka pendidik harus memiliki keberanian untuk bertindak.

 

  1. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Dasar dalam mengambil keputusan selain nilai kebajikan dan bertanggung jawab adalah berpihak pada murid. Keputusan yang diambil harus berorientasi pada kebutuhan murid. Oleh karena itu, dalam mengambil keputusan harus dipikirkan apakah akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif untuk mendukung proses belajar murid, aman, nyaman dan kondusif sehingga murid memiliki kemerdekaan dan kebahagiaan dalam mengembangkan dirinya. Keputusan tidak boleh membuat murid tertekan, terintimidasi dan menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan ketakutan. Sebaliknya keputusan tersebut harus mampu menuntun murid untuk memaksimalkan bakat dan potensinya dalam mencapai kebahagiaan sejati.

  1. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan - kesulitan yang saya alami di lingkungan kerja saya adalah :

a.    Menyamakan persepsi dengan semua rekan kerja

Beberapa guru yang sudah nyaman di zonanya, agak sulit dalam menyamakan persepsinya terhadap sesuatu yang baru. Sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada dianggap hanya menambah pekerjaan dan beban pikiran saja. Untuk menyikapi hal ini tentunya butuh sebuah kegiatan untuk menyamakan persepsi, bisa dilakukan dengan cara kolaborasi dan pengimbasan dengan komunikasi positif dalam suasana kerja yang nyaman.

b.    Tarik menarik dengan berbagai kepentingan

Seperti yang disampaikan oleh pak Nadiem bahwa dalam membuat keputusan pasti tidak bisa memenuhi semua kepentingan dan memuaskan semua pihak. Terlebih lagi jika keputusan yang kita ambil adalah sebuah langkah transormasi, pasti akan ada kritik bahkan pertentangan didalamnya. Kritik dan pertentangan akan datang dari pihak yang merasa kepentingannya terganggu. Mau tidak mau harus siap dengan segala konsekuensinya.

c.    Konsistensi dalam menjalankan komitmen

Kendala ini berasal dari diri saya pribadi. Saat masih mengikuti pendidikan guru penggerak ini, insyaallah saya konsisten dalam menjalankan komitmen. Namun tidak bisa dipungkiri, seorang manusia kadang ada di titik jenuh, lelah dan putus asa. Sebenarnya ini lebih pada kekhawatiran, akahkah seterusnya saya bisa selalu konsisten dalam menjalankan tugas dan peran saya apabila nanti ada pada situasi dan kondisi yang sulit dan berat.

  1. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Setiap keputusan yang kita ambil tentunya akan sangat berpengaruh pada tujuan dari awal pendidikan ini yaitu bagaimana menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Menciptakan suasan kelas yang aman, nyaman dan menyenangkan sehingga murid-murid dapat memerdekakan dirinya dalam proses belajar. Keputusan , kita berdampak pada bagaimana murid dapat memaksimalkan potensinya dengan sepenuh hati dan mendapat respon, umpan balik positif dari lingkungannya. Keputusan tidak hanya pada menyelesaikan masalah tetapi juga tentang bagaimana menciptakan pembelajaran dikelas yang efektif, kreatif, inovatif dan penuh dengan kebermanfaatan.

  1. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Apa yang akan didapatkan dimasa depan dipengaruhi dengan apa yang dilakukan pada hari ini. Keputusan yang kita ambil hari ini akan berpengaruh dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Keputusan yang tepat dan efektif akan berpengaruh pada masa depan murid-murid kita. Apabila hari ini murid-murid kita bisa menemukan kemerdekaan dan kebahagiaan dalam belajar sehingga mereka menemukan dan memaksimalkan potensinya maka, hal ini akan memberikan kemudahan dan jalan bagi murid untuk mencapai kesuksesan di masa yang akan datang.

  1. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir dari pembelajaran di modul ini adalah adanya keterkaitan dari semua modul baik itu filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, nilai guru pengerak, peran guru penggerak, budaya positif, pembelajaran berdiferensiasi, visi misi sekolah yang berpihak pada murid, pembelajaran sosial emosional, coaching pada pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

1.    Guru berperan penting dalam menjadikan sekolah sebagai institusi moral yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan dalam mendidik murid-muridnya

2.    Diperlukan konsistensi dan komitmen dari seluruh warga sekolah, orang tua dan stakeholder dalam melaksanakan visi misi sekolah yang berpihak pada murid.

3.    Setiap keputusan yang diambil harus didasarkan pada nilai kebajikan, bertanggungjawab dan berpihak pada murid.

4.    Saat mengambil keputusan kita harus memikirkan apakah keputusan tersebut akan berdampak pada peningkatan belajar murid.

5.    Butuh keberanian dalam mengambil keputusan karena pasti akan ada kritik dan pertentangan dari beberapa pihak

6.    Saat membuat keputusan harus dilakukan dengan kesadaran penuh dengan melibatkan aspek sosial dan emosional yang baik

7.    Ketrampilan coaching akan sangat membantu dalam menjalankan sembilan langkah pengambilan keputusan

8.    Efektif atau tidaknya keputusan yang kita ambil akan sangat berpengaruh bagi kesuksesan murid di masa depan

 

 

WUJUDKAN ASA BERSAMA RADIO PATSKA - AKSI NYATA 3.3.

  WUJUDKAN ASA BERSAMA RADIO PATSKA Oleh : Wegang Sri Sulanjari   A.    Latar Belakang Radio streaming adalah sebuah media komunikas...