PEMIMPIN
PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
Oleh :
Wegang Sri Sulanjari
Latar Belakang
Setiap sekolah memiliki visi dan misi yang ditetapkan sebagai acuan dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pencapaian visi dan misi sekolah tentu saja
harus dilakukan oleh seluruh aspek yang ada di sekolah. Kepala sekolah sebagai pimpinan
dituntut memiliki kemampuan managerial untuk menggerakkan dan mewujudkan
sekolah sebagai sebuah ekosistem yang baik dan kuat. Guru adalah pemimpin
pembelajaran di kelas, berhadapan langsung dengan murid dan orang tua merupakan
unsur penting, begitu juga dengan tempat, sarana prasarana, dan unsur lain yang
dapat mendukung dalam pelaksanaan kegiatan dan program sekolah.
Saat menetapkan program atau melaksanakan kegiatan baik di kelas maupun
lingkup sekolah kerap menghadapi hambatan dan kendala. Berjalan tidaknya
kegiatan tersebut tergantung dari keputusan seluruh warga sekolah dalam
mengambil keputusan serta bagaimana pemimpin pembelajaran mampu mengelola
sumber daya sekolah menjadi kekuatan dalam mencapai tujuan pembelajaran dan
visi, misi sekolah
Permasalahan
Bagaimanakah seorang pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya
untuk mencapai tujuan, visi dan misi sekolah ?
Pemecahan masalah
Seorang pemimpin pembelajaran harus memiliki mindset atau pola pikir
positif dalam menjalankan kegiatan di sekolah baik itu pembelajaran di kelas,
pembiasaan, event, kegiatan ko kurikuler maupun intrakurikuler serta kegiatan
yang berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru seperti seminar, workshop,
dan sebagainya.
Hal ini dapat dilakukan dengan Pendekatan Berbasis Aset atau Asset Based Thingking. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset menekankan kepada
kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang
dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri
mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan.
Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset berfokus pada potensi
aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas. Selama ini
komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang
dihadapi.
Pengelolaan
sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran
murid menjadi lebih berkualitas.
Saat pemimpin pembelajaran melakukan pemetaan teradap
sumber daya yang dimiliki dan selanjutnya memanfaatkannya secara maksimal dalam
melaksanakan pembelajaran di kelas, maka hal tersebut akan mendorong sebuah
tindakan yang berdampak pada peningkatan kualitas proses dan ketercapaian hasil
pembelajaran. Mengingat bahwa dengan melakukan pendekatan berbasis aset, kita
akan lebih berorientasi pada aset dan kekuatan, membayangkan masa depan,
berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan
tersebut, mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya, merancang sebuah
rencana berdasarkan misi dan kekuatan serta melaksanakan aksi yang sudah
direncanakan.
Hubungan materi ini dengan materi lain yang didapatkan sebelumnya
selama mengikuti proses Pelatihan Guru Penggerak.
Modul 3.2. ini mengajarkan untuk merubah mindset atau
paradigma berpikir positif dalam mengembangkan sumber daya di sekolah dan
memanfaatkannya secara maksimal. Hal ini sangat erat kaitannya dengan modul sebelumnya
yaitu :
1. Modul 1.1. tentang pemikiran Ki Hajar
Dewantara untuk menuntun anak sesuai dengan kodratnya dimana kita harus fokus
pada kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh murid sehingga murid akan dapat
menemukan kebahagiaan sejatinya.
2. Modul 1.2. tentang nilai dan peran
guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran yang harus memiliki kemampuan dalam
mengelola sumber daya untuk mencapai kesuksesan proses pembelajaran.
3. Modul 1.3. tentang taapan BAGJA
dalam melakukan sebuah prakarsa perubahan
4. Modul 1.4 tentang budaya positif di
sekolah dengan merubah mindset menjadi positif
5. Modul 2.1, 2.2, 2.3. tentang pembelajaran
berdiferensiasi, pembelajaran sosial emosional dan coaching dengan memaksimalkan
potensi yang dimiliki anak untuk menyelesaikan masalahnya
6. Modul 3.1. tentang pengambilan
keputusan yang bertanggung jawab sebagai seorang pemimpin pembelajaran.
Materi ini memberi penguatan sekaligus aplikasi dalam
mengimplementasikan materi diatas.
Hubungan
antara sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan terkait
modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri saya setelah mengikuti
proses pembelajaran dalam modul ini.
Sebelum mempelajari modul ini saya masi menggunakan
analisis SWOT dimana paradigma saya masih berpikir bagaimana mengadapi kendala
bukan pada bagaimana memaksimalkan potensi, seingga ada beberapa rencana yang akhirnya
berjalan tidak maksimal atau tidak berjalan sama sekali. Setelah mempelajari materi
ini saya sudah mampu memetakan aset dan mencatat aspek mana saja yang bisa saya
maksimalkan untuk menjalankan rencana saya. BAGJA sangat membantu di dalam menyusun
dan melaksanakan sebuah program atau kegiatan di sekolah, baik pembelajaran di
kelas maupun kegiatan di lingkup sekolah.
Kesimpulan
Paradigma berpikir positif dengan fokus
pada potensi yang dimiliki akan menggerakan seluruh kemampuan kita untuk
bertindak positif. Pemetaan aset dan membuat sebuah prakarsa perubahan dengan
tahapan BAGJA akan sangat membantu guru sebagai pemimpin pembelajaran mencapai
tujuan pembelajaran dengan maksimal.














